My Life Today : What keeps bothering me

2 Agu

Hi you there! it’s been a while since I wrote in here. Tapi untung ga lupa ngimana caranya nulis di blog, tapi lupa terus dg apa yang mau ditulis di marih😀

eniwei, hidup saya saat ini seperti biasa, ngejomblo dengan tenang tanpa rasa galau. untung usia saya udah ga labil lagi, jadi walau single hidup tetep enjoy. cuman orang tua aja yang kayaknya kurang enjoy dengan status saya. saya bahkan dikasih deadline tahun depan buat buru-buru nikah. hadeeeeh. mama papa kayaknya dah mulai iri sama tetangga sebelah yang saban pagi jalan-jalan terus gendongin cucunya.

walau deadline adalah kata yang amat sangat familiar dengan kehidupan saya, tapi tetep aja ini deadline penentu masa depan yg sangat krusial. saya mah sekarang jadinya hanya mengandalkan doa, khususnya doa orang tua biar cepetan double, ga single lagi.

to be honest, saya sendiri masih agak gamang dengan namanya pernikahan. bukannya saya tidak suka konsep pernikahan. itu khan sunah Rosul. malah ada yang bilang menikah itu melengkapi setengah dien. tapi saya masih ga kepikir aja gitu gimana kalau saya nikah. apa yg harus saya lalukan sebagai istri. kalau males saya kambuh gimana? suami saya bisa gak keurus donk. masak aja belum bener. paling jago cuman masak air. jeh.

satu lagi yang bikin saya was-was. gimana kalau suami saya nanti tidak sesuai harapan saya. banyak kurangnya. atau gimana kalau saya mengecewakan suami nantinya. gimana kalau keluarganya ga asik. atau dia gak loosen up sama keluarga saya.

hupf.. mungkin pikiran-pikiran ini juga yang menghalangi saya bertemu dengan jodoh yang telah ditentukan sejak saya dalam kandungan. belum siap metal. tidak siap tanding. takut ini itu.

saya jadi inget kata-kata temen saya. ‘sebenernya niat kamu nikah apa sih? nikah itu diniatkan untuk beribadah. mungkin dibilang nikah itu setengah dari dien karena dalam pernikahan itu banyak cobaannya. musti menyatukan dua orang dengan isi kepala yang berbeda-beda. dalam pernikahan ada toleransi. tenggang rasa dll’. dah kayak pelajaran PPKN ya bow! but that’s the point!

makanya untuk menghilangkan kekhawatiran saya, saya sering nambahin doa setelah berdoa minta didekatkan dan bertemu jodoh hidup : suami yang baik hati, yang bisa masak (biar saya yang dimasakin hahaha), suami yang berkecukupan (biar bisa sewa asisten rumah tangga hihi), suami yang keluarganya asik, yang sayang sama keluarganya dan keluarga saya, yang keluarganya dan keluarga saya akur rukun damai, yang enak dilihat (pajangan kale!), yang suka traveling brg saya, yang tiap sholat wajibnya di mesjid, dan yang masih banyaaaak lagi. tp point pentinnya adalah mencintai Allah rosul dan saya, plus setia😀

tapi permintaan itu menjadi bumerang bagi saya sendiri : pantaskah saya mendapatlan suami yang seperti itu? apakah kriteria pendamping tersebut yang benar-benar saya butuhkan? *merenung sambil berusaha memantaskan diri*

 

 

met tidur semua.. jangan lupa bangun tuk sahur besok😉

Lately

29 Jun

Lately I am so sick.. This flu somehow makes me crazy *srat srot srat srot terusss (-.-)

Lately I am so sleepy, dont have enough time to sleep. Too much time was spent only for playing game on facebook, cityville.. So addicted (>.

Lately I am so lazy. Not doing anything but playing game, watching k-drama and sleeping. Not appreciating the time that I have. Only playing around to waste my time.

Oh lately.. I guess tonight I’ll go to sleep late again. But thank God tomorrow is saturday so i won’t late again to work as usual :p

Happy weekend, readers🙂

Posted from WordPress for Android

Judgement

27 Mei

Banyak yang bilang kalau saya ini orangnya rapih. teratur. gak suka kalau ada yg berantakan. kalau ada temen yang numpahin minum di rumah, muka saya langsung cembetut.

kalau ada temen yang masuk kamar, pasti mereka bilang ‘kamar lo rapih ya’. atau kalau saya lagi namu ke rumah temen tuk acara kumpul-kumpul dan saya datang terlambat, temen biasanya suka beberes dulu sebelum saya masuk biar gak keliatan berantakan amat. takut saya jadi males nyomot makanan kalau keliatan kotor.

saya suka bingung sendiri sama state mereka. bukan saya yang bilang kalau saya ini rapih. bukan saya juga yang bilang kalau saya gak suka kotor. dan bukan saya yang ngomong juga kalau saya maunya bersih terus. karena bagi saya, saya tidak cukup rapih, bersih, dan teratur.

kamar saya sering berantakan. isi lemari saya juga suka acak adut. dapur rumah apalagi gak pernah bersih kecuali kalau asisten rumah tangga datang. saya gak sebersih yang mereka kira. tapi tetep aja mereka bilang raya rapih. hemmm mungkin kadar kerapihan seseorang berbeda-beda.

tampilan mungkin rapih, tapi hidup saya ga serapih keliatannya. saya juga bukan orang yang teratur apalagi disiplin. saya jauh dari kata itu. saya malah cendrung random. melakukan ini itu suka-sukanya. kalau lagi suka dijalanin. kalau lagi males ya dicuekin. kayak blog ini contohnya, hehehe.

tapi terlepas dari anggepan saya akan diri saya sendiri, tetep orang lain yang menilai. kadang kita ga merasa seperti yang orang lain tuduhkan. they see us, judge us, and determine what we are. itu mungkin yang saat ini berlaku di masyarakat kita.

tapi pendapat orang lain tentang diri kita bisa juga menjadi cerminan diri, karena sehari-hari kita berinteraksi dengan mereka. they see what we do, they talk to us, and conclude what kind of person we are based on the interaction.

tapi satu hal, pendapat orang lain bisa berbeda-beda. apa yang temen saya pikir tentang saya belum tentu sama dengan apa yang ayah saya pikirkan. bagi beliau saya orang yang kasar, kurang lembut. apa-apa gak sabaran. bagi temen deket saya, mereka bilang saya orangnya picky makanya ampe sekarang ga dapet jodoh *asem!!!*. bagi temen kantor, saya orangnya terlalu serius kalau kerja, kadang suka ga peduli dengan apa yang disekitar kalau udah ngoding. bagi seorang kenalan, saya orangnya kalem dan pendiem *padahal die gak tau aje kalau gw dah mulai gila >.<

eniwei, saya adalah saya. saya yang diawal pendiem dan diakhir suka mengganas *eh*. saya yang katanya rapih tapi sering mendadak awut-awutan. saya yang terlihat lembut tapi kadang suka kasar memperlakukan barang-barang di rumah, cendrung ga sabaran. saya yang suka milih-milih tapi kadang suka pasrah nerima apa aja yang didapet. yaaa manusia gitu kan, kadang bener dan sering gak benernya😛

in the end, saya cuman bisa bilang kalau judgement seseorang itu belum tentu menggambarkan keseluruhan hidup orang lain. ada sisi yang kadang tak terlihat, tertutup oleh sisi yang dominan di mata orang lain. judgement, hemmm kayaknya saya sendiri harus banyak belajar tuk tidak men-judge seseorang seenak jidat, karena belum tentu yang saya pikirkan adalah benar.

salut buat tim SAR TNI-Polri yang begitu hebat perjuangannya dalam mengumpulkan jenazah korban pesawat sukhoi, ternyata di balik judgement saya (yang biar saya sendiri yang tau), mereka membuat saya terharu dan berdecak kagum akan kegigihannya menolong orang lain di medan yang terjal. keren!

kecewa buat pembatalan konser lady gaga. terlalu banyak judgement jelek tentang lady gaga, padahal kalau diliat-liat lagi, dengan adanya konser ini paling tidak bisa membawa keuntungan bagi bangsa kita, dari sisi pariwisata, devisa, atau yang lainnya. segala sesuatunya bisa dikompromikan bukan? baik dari segi content konser atau kostum atau pun yang lainnya. well, I’m not a big fan of gaga, saya pun beli tiket konsernya. cuman menyayangkan aja kenapa pihak-pihak terkait gak berpikir lebih luas ke depan, bukan hanya berdasarkan judgement dari masyarakat. duh kok gw jadi kedengeran liberal banget ya?! *duuuuuh

it’s just my  opinion. you are the one who make up your mind, not just based on justification of others.

*eniwei, saya cembetut krn males musti beresin tumpahannya😛

sepenggal pemikiran akan masa depan

17 Apr

Seperti biasa, hari ini saya pulang menggunakan kereta jurusan jakarta kota – bogor dengan pemberhentian di stasiun pondok cina. Yang sedikit tidak biasa adalah saya naik kereta dari stasiun manggarai, dimana biasanya saya naik dari stasiun gambir. Kebetulan tadi saya numpang taksi temen yang rumahnya di daerah kebayoran (eh apa kemayoran ya?! #lupa).

Bersyukur saat jam 8 lewat kereta sedikit lenggang, walaupun tetap saja berdiri, tapi paling tidak isi kereta tidak terlalu padat. Saya masih bisa membentangkan kedua tangan ke kiri dan ke kanan, cukup lega. Hal ini bertolak belakang bila pulang tepat saat jam kantor, untuk menggerakan telapak tangan saja seperti sulit sekali, kepentok tangan penumpang kereta lainnya.

Buku dari tas pun saya keluarkan. Sudah lama saya tidak menikmati perjalanan pulang naik kereta sambil membaca buku. Kegiatan ini paling tepat untuk menghilangkan rasa bosan menunggu kereta berhenti di tempat tujuan. Kegiatan pertama pembunuh bosan, dimana posisi kedua dipegang kegiatan mendengarkan mp3 atau radio sambil berdendang kecil, khawatir penumpang lain terganggu dengan suara saya yang ngepas dan cendrung pales.

Kali ini saya membawa buku Dua Tangis dan Ribuan Tawa yang merupakan kumpulan CEO Note dari mantan CEO PLN yang sekarang menjabay sebagai menteri BUMN, Dahlan Iskan. Saya baru baca sebagian. Baru sekitar 4 atau 5 bab. Dan saya sudah terpukau. Saya terpukau dengan orang-orang PLN. Terpukau dengan kemimpinannya. Saya terpukau dengan caranya mendeskripsikan betapa keras kerja anak buahnya demi kemajuan PLN agar tak sering dihujat dan dicaci bila terjadi pemadaman listrik bergilir. Terpukau dengan tulisannya, tak bertele-tele dan mudah dipahami. Benar-benar tulisan seorang jurnalis.

Entah kenapa jadi terpikir oleh saya, ingin rasanya anak saya nanti menjadi bagian dalam memajukan pelistrikan di Indonesia ini. Ingin rasanya anak saya nanti berjuang dan berkeja keras agar seluruh rakyat indonesia bisa merasakan terangnya malam dengan cahaya lampu dan memusnahkan kata ‘pemadaman bergilir’ selamanya di Indonesia. Menjadi bagian manajerial untuk membangun PLN yang jauh lebih baik, demi kepentingan rakyat, karena saya terpukau dengan beberapa orang yang ditulis dalam buku tersebut, dimana mereka mempunyai kemampuan analisis dan manajerial skill yang patut diajungi jempol.

Mungkin ini akan menjadi keinginan saya bagi anak lelaki kedua nanti. Sedangkan anak lelaki pertama tetep saya usahakan untuk menjadi seorang teknisi kereta handal yang memikirkan dengan cermat sistem perkeretaan yang terbaik untuk PT KAI, agar perkeretaan kita, khusunya di daerah jabodetabek, tak lagi sering mogok akibat gangguan sinyal yang sering membuat para pekerja terlambat masuk kantor atau pulang kelewat telat hingga jam 3 pagi cuman karena gangguan sinyal masuk di salah satu stasiun >.< #parah

Ah, mungkin sepenggal pemikiran saya ini terlalu berlebihan atau terlalu jauh. Mungkin ini bisa kembali saya pikirkan di masa yang akan datang, setelah saya bertemu dengan ayah mereka nanti *cari jodoh mode on* =))

Sulitnya menyusun Itinerary

18 Mar

Kata ini sebenernya kurang familiar bagi saya. Malah saya baru tau kalo ada kata ‘Itinerary’ yang artinya rencana perjalanan. Itu juga karena saya gak sengaja beli bukunya Claudia Kaunang, 3 Juta Keliling Korea dalam 9 Hari. Hingga sekarang pun kata ini masih kurang familiar bagi lidah saya, sering salah pengucapan, terbalik antara ‘itinerary’ dan ‘iterary’ atau kadang saya menyebutnya ‘itinery’. Yah apa pun itu maksudnya samalah ya😛

Eniwei, membuat itinerary sangat penting dilakukan sebelum memulai perjalanan menuju tempat yang sama sekali asing bagi kita. Biasanya sebelum traveling yang tanpa ikut tour, saya selalu menyempatkan diri untuk mencari informasi mengenai tempat yang ingin dikunjungi. Ini penting, biar gak mati gaya dan pelanga-pelongo saat di tempat yang sama sekali baru bagi kita. Apalagi kalau gak punya kenalan orang lokal, yang ada nanti tiap ketemu orang di jalan bawaannya nanyaaa mulu biar gak tersesat di jalan.

Selain itu, dengan dibuatnya itinerary, perjalanan jadi lebih jelas arah dan tujuannya. Jelas mau kemana, kapan perginya, mau naik apa, dimana nginepnya, atau bahkan mau makan apa. Intinya cari tau sebanyak mungkin tentang target lokasi kita dari hal yang remeh temeh hingga hal yang besar.

Tapi bagi saya, semakin banyak informasi yang didapatkan malah semakin pusing dan pening pala ini. Yang tadinya hanya ingin ke tempat A jadi pengen ke tempat B dan C juga. Bahkan ada juga tempat Z yang kayaknya sayang kalau dilewatkan begitu saja mumpung lokasinya dekat. Di sinilah saya harus memutuskan dengan cermat tempat mana saja yang harus saya kunjungi dan tempat menginap mana yang paling tepat sesuai dengan kebutuhan saya.

Kalau udah kayak gini, biasanya saya ujung-ujungnya gak kelar buat itinerary-nya, tapi malah membuat daftar panjang tempat mana saja yang kayaknya ‘wajib’ saya kunjungi. Saat sedang rileks dan pikiran tenang, barulah saya mulai lagi menyusun itinerary dengan menseleksi lokasi mana saja yang masuk kategori ‘wajib’, ‘sunah’, dan ‘mubah’  untuk dikunjungi  *halah*.

Satu masalah mungkin selesai, tapi muncul masalah baru, yaitu susunannya itu sendiri. Saat menyusun itinerary, harus cermat lokasi mana yang dekat satu sama lain sehingga bisa digabungkan dalam satu hari. Perhatikan juga aktivitas apa yang akan dilakukan di sana dan perkirakan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk explore lokasi tersebut. Dan yang gak kalah penting untuk dipikirkan dengan matang dan cermat adalah ‘how to get there’! transportasi apa yang pas dan hemat biaya tapi gak nyusahin diri.

Seperti yang sedang saya lakukan saat ini. Mendadak saya stuck saat sedang menyusun rencana perjalan ke suatu tempat. Dalam daftar saya, masih banyak tempat yang kayaknya ‘wajib’ buat dikunjungin, tapi hanya tersisa dua hari yang masih kosong dalam itinerary saya. Ditambah lagi biayanya hampir melebih budget, padahal masih ada sisa dua hari yang masih belum saya tentukan kemana dan berapa biayanya. hajuuuuh….

Waktu dan biaya memang menjadi masalah mendasar bagi saya. Waktu terbatas karena gak bisa banyak-banyak ambil cuti. Biaya pun gak bisa gede-gede amat karena liburan ini pure biaya sendiri, merogoh uang tabungan yang masih belum seberapa.

Mungkin saatnya saya rehat dulu kali ya. Saat pikiran dah kembali fresh, baru mulai melengkapi bagian yang bolong dari itinerary tadi. Gudnite everyone🙂

Just wanna go there…

16 Mar

Makin hari, saya merasa makin banyak hal yang belum saya lakukan. Dan banyak pula tempat menarik di negeri ini yang belum saya kunjungi.

Saya belum pernah naik ke menara Monas walau bisa dibilang hampir setiap hari saya melewewati monas, bila pulang dari kantor biasanya saya naik kereta di stn Gambir yang tetanggaan sama Monas. Jalan-jalan pagi di Monas juga kayaknya asik juga.

Kawasan Kota Tua. Saya sudah beberapa kali menginjakan kaki di Kota Tua hanya untuk sekedar foto-foto dan naik sepeda ontel yang bisa disewa setiap 15 menit. Tapi sebenernya masih banyak tempat wisata lainnya disekitar kota tua yang belum saya kunjungi, sepeti Museum BI dan mMuseum Wayang. Dan setiap malam ternyata di kawasan ini sering diadakan pasar kaget. Ini juga baru saya ketahui saat melewati kawasan tersebut ketika pulang kerja menuju stasiun Jakarta Kota waktu lagi ngantor d sekitar Pluit.

Backpackeran di Yogya naik kereta api dari Gambir. Saya suka iri dengan bule-bule yang suka wara-wiri di Gambir dengan ransel d punggung sambil bersyukur bahwa negera kita ini masih diperhitungkan sebagai tempat pariwisata bagi para turis asing. Dan kenapa ke Yogya, karena saya baru dua kali kesana tp itu juga dengan rombongan tur. Pengen aj gitu independent travelling disana.

Main main di Trans Studio Bandung. Untuk yang ini saya cuman penasaran ajah isinya kayak apa sih dan juga pengen ngerasain naik wahana yang menantang adrenalin.

Snorkling di Kepulauan Seribu. Nah kalo ini kayaknya gak lama lagi kesampaian krn akhir april nanti saya akan brangkat ke Pulau Bira untuk wisata air. Can’t wait ^^

Saat ini baru itu aja yang terpikir sama saya. mungkin selanjutnya akan ada postingan sejenis session dua. Atau mungkin jg ada yang nambahin ?

Well, overall I just wanna go there and see things I haven’t seen before.